ALIRAN-ALIRAN AKHLAK TENTANG KRITERIA
BAIK BURUK
Menurut Aliran Sosialisme, Idealisme,
Intuisisme, Utilitarianisme, Hedonisme, Evolusi dan religionisme.
Makalah ini Disusun untuk Memenuhi
Tugas Mata Kuliah
“Akhlak Tasawuf “

Disusun oleh :
1.
DEBY SEPTIYAS JAZULI
2.
DIAN MAYASTIKA
3.
HALIMATUS SA’DIYAH
Dosen Pengampu :
Imroatul Munfaridah, M.HI
JURUSAN SYARI’AH
PROGRAM STUDI MUAMALAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PONOROGO
2014 / 2015
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Perbuatan
manusia ada yang baik dan ada yang tidak baik. Kadang-kadang disuatu tempat,
perbuatan itu dianggap salah atau buruk. Hati manusia memiliki perasaan dan
dapat mengenal,
perbuatan itu baik atau buruk dan benar atau salah.
Penilaian
terhadap suatu perbuatan adalah relatif,
hal ini disebabkan adanya
perbedaan tolak ukur yang digunakan untuk penilaian tersebut. Perbuatan tolak
ukur tersebut, disebabkann karena perbedaan agama, kepercayaan, cara berpikir,
ideology, lingkungan hidup, dan sebagainya.
Ada
pendapat yang mengatakan bahwa setiap manusia
mempunyai kekutan
insting. Hal ini berfungsi bagi manusia untuk dapat membedakan mana yang benar
dan mana yang salah, yang berbeda-beda, karena pengaruh kondisi dan situasi
lingkungan. Dan seandainya dalam satu lingkungan pun belum tentu mempunyai
kesamaan insting. Kemudian pada diri manusia juga mempunyai ilham yang dapat
mengenal nilai suatu itu baik atau buruk.
Didalam
ilmu Akhlak kita berjumpa dengan istilah-istilah: benar, salah, baik dan buruk.
Apakah prinsip-prinsip yang kita pakai itu benar atau salah: apakah
kebiasaan-kebiasaan yang kita perbuat itu baik atau buruk.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1.
Apa
pengertian baik dan buruk ?
2.
Apa
saja aliran baik dan buruk ?
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
PENGERTIAN
BAIK DAN BURUK
Pengertian
baik secara bahasa adalah terjemahan dari kata khoir dalam bahasa Arab, atau good dalam bahasa
Inggris. Louis Ma’luf dalam kitab Munjid, mengatakan bahwa yang disebut baik
adalah sesuatu yang telah mencapai kesempurnaan.[1]
Selanjutnya,yang
baik itu juga adalah sesuatu yang mempunyai nilai kebenaran atau nilai yang
diharapkan dan memberikan kepuasan.Yang baik itu juga sesuatu yang sesuai
dengan keinginan.[2]
Akan
tetapi secara obyektif, walaupun tujuan orang atau golongan di dunia ini
berbeda-beda, sesungguhnya pada akhirnya semuanya mempunyai tujuan yang sama, sebagai
tujuan akhir tiap-tiap sesuatu, bukan saja manusia
bahkan binatang pun mempunyai tujuan. Dan tujuan akhir dari semuanya itu sama,
yaitu bahwa semuanya ingin baik. Dengan kata lain semuanya ingin bahagia. Tak
ada seorangpun dan sesuatupun yang tidak ingin bahagia.
Tujuan
dari masing-masing sesuatu walaupun berbeda-beda, semuanya akan bermuara kepada
satu tujuan yang dinamakan baik, semuanya mengharapkan agar mendapat yang baik
dan bahagia, tujuan akhirnya sama. Dalam ilmu etik disebut “kebaikan tinggi”,
yang dengan istilah Latinnya disebut Summum Bonum atau bahasa Arabnya Al-Khair
al-Kully. Kebaikan tertinggi ini biasa juga disebut kebahagiaan yang universal
atau Universal Happiness.
2.2 BEBERAPA ALIRAN BAIK BURUK
Perkembangan
pemikiran manusia selalu berubah, begiru juga patokan yang digunakan orang
untuk menentukan baik dan buruk manusia. Keadaan yang demikian ini menurut
Poedjawijatna terpengaruh oleh pandangan filsafat tentang manusia yaitu
antropologia metafisika. Beliau menyebutkan sejumlah pandangan filsafat yang
digunakan dalam menilai baik dan buruk, yaitu hedonisme, utilitariasnisme,
sosialisme, religionisme, idealisme.[3]
Sedangkan Asmaran As menyebutkan ada empat aliran filsafat yaitu adat
kebiasaan,hedonisme,
intuisi, dan evolusi.[4]
Membicarakan
baik dan buruk pada perbuatan manusia maka penentuan dan karakternya baik dan
buruk perbuatan manusia dapat diukur melalui fitrah manusia. Dan dapat
disimpulkan bahwa diantara aliran-aliran filsafat yang mempengaruhi dalam
penentuan baik dan buruk diantaranya :
a. Aliran Hedonisme
Aliran
Hedonisme berpendapat bahwa norma baik dan buruk adalah”kebahagiaan” karenanya
suatu perbuatan apabila dapat mendatangkan kebahagiaan maka perbuatan itu baik,
dan sebaliknya perbuatan itu buruk apabila mendatangkan penderitaan.
Menurut
aliran ini, setiap manusia selalu menginginkan kebahagiaan, yang merupakan
dorongan daripada tabiatnya dan ternyata kebahagiaan adalah tujuan akhir dari
hidup manusia, oleh karenanya jalan yang mengantarkan kearahnya dipandang
sebagai keutamaan(perbuatan mulia/baik).
Maksud
dari “kebahagiaan” itu menurut aliran ini adalah Hedone, yakni kelezatan,
kenikmatan, dan kepuasan rasa serta terhindar dari penderitaan. Karenanya
kelezatan bagi aliran ini adalah merupakan ukuran dari perbuatan, jadi perbuatan dipandang baik
menurut kadar kelezatan yang terdapat padanya dan sebaliknya perbuatan itu
buruk menurut kadar penderitaan yang ada padanya.
Aliran
Hedonisme, bahkan tidak saja mengajarkan agar manusia mencari kelezatan, karena
pada dasarnya tiap-tiap perbuatan ini tidak sunyi dari kelezatan tetapi aliran
ini justru menyatakan: hendaklah manusia itu mencari sebesar-besar kelezatan,
dan apabila ia disuruh memilih di antara
beberapa perbuatan wajib ia memilih yang paling besar kelezatannya.
Maksud
paham ini adalah bahwa manusia hendaknya mencari kelezatan yang
sebesar-besarnya bagi dirinya. Dan setiap perbuatannya harus diarahkan kepada
kelezatan. Maka apabila terjadi keraguan dalam memilih sesuatu perbuatannya,
harus diperhitungkan banyak sedikitnya kelezatan dan kepedihannya. Dan sesuatu
itu baik apabila diri seseorang yang melakukan perbuatan mengarah kepada
tujuan.[5]
b. Aliran sosialisme(adat istiadat)
Baik
dan buruk menurut aliran ini ditentukan berdasarkan adat istiadat yang berlaku
dan dipegangi oleh masyarakat. Orang yang mengikuti dan berpegang teguh pada
adat dipandang baik, dan orang yang menentang tidak mengikuti adat istiadat
dipandang buruk dan mendapat hukuman secara adat. Adat istiadat selanjutnya
dipandandang sebagai pendapat umum. Ahmad Amin mengatakan bahwa tiap bangsa
atau daerah mempunyai adat tertentu mengenai baik dan buruk.[6]
Di
masyarakat akan kita jumpai adat istiadat yang berkenaan dengan cara
berpakaian, makan, minum, dan sebagainya. Orang yang mengikuti cara yang demikian itulah yang dianggap orang
baik, dan orang yang mengingkarinya adalah orang yang buruk. Kelompok yang
menilai baik dan buruk menurut adat ini dalam pandangan filsafat dikenal dengan
aliran sosialisme. Paham ini muncul dari anggapan karena masyarakat itu terdiri
dari manusia, maka masyarakat lah yang menentukan nilai baik dan buruk
perbuatan manusia itu sendiri. Karena hakikat dari adat itu sendiri sebenarnya
adalah produk budaya manusia yang sifatnya Nisbi dan relafit, maka nilai baik
dan buruk tersebut juga sangat relatif.
c.
Aliran
Instuinisme
Aliran
instuinismene berpendirian bahwa setiap manusia mempunyai kekuatan naluri
batiniah yang dapat membedakan sesuatu itu baik atau buruk dengan hanya
selintas pandang. Jadi, sumber pengetahuan tentang suatu perbuatan mana yang
baik atau mana yang
buruk adalah kekuatan naluri, kekuatan batin atau bisikan hati nurani yang ada
pada tiap-tiap manusia.
Oleh
karena itu, apabila seseorang melihat sesuatu perbuatan, maka pada dirinya
timbul semacam ilham yang member petunjuk tentang nilai perbuatan itu dan
selanjutnya ditetapkanlah hukum perbuatan itu baik atau buruk. Dengan demikian,
maka kebanyakan manusia sependapat atas keutamaan sifat benar, dermawan ataupun
berani dan semacamnya, demikian pula mereka sepakat atas sifat-sifat
kebalikannya yang cela dan keji.
Para
pengikut aliran instuisi, berpendapat bahwa manusia mengerti hal-hal yang baik
dan yang buruk secara lansung dengan melihatnya sekilas panndang.
Perbuatan-perbuatan baik dan buruk dikur dengan daya tabiat batiniah, karenanya
dikatakan, benar adalah wajib karena benar termasuk sifat utama buak karena
darurat dank arena pendirian orang banyak atau jaminan kemewahan serta buka
berarti diluar tabiatnya. Demikian pula pencurian adalah buruk karena dalam
tabiatnya termasuk sifat melampaui batas atau permusuhan pada orang lain dan
merampas kekuasaanya dengan tanpa hak.
Sebagai
pendukung aliran ini Plato(430-347SM) mengatakan bahwa : adalah kesalahan besar
kalau kebahagiaan itu dijadikan tujuan hidup. Sebab hal itu dapat menyesatkan
hati nurani. Kenyataan menunjukkan bahwa manusia bukan setiap perbuatannya itu
mencari kebahagiaan.
Dalam
mengutakan paham Plato(instuisi) dari Aristoteles (Hedonisme), Sainther
berkata, sesungguhnya salah besar sekali bahwa tujuan hidup itu adalah bahagia,
karena dalam hal ini menimbukan pandangan yang buruk terhadap segala sesuatu
untuk kewajiban. Kewajiban mana yang lebih penting dari manfaat dengan segala
apa yang dinamakan kebahagiaan. Sungguh bahagia itu tidak berarti apa-apa bila
dibandingkan dengan kewajiban, dan dapat dikatan keruntuhan akhlak, bila
seorang melebihkan kebahagiaan manusia daripada kewajibannya.[7]
d. Aliran Idealisme
Aliran
ini sangat penting dalam perkembangan sejarah pikiran manusia. Mula-mula dalam
filsafat abrat kita temui
dalam bentuk ajaran yang murni dari Plato yang menyatakan bahwa alam, cita-cita
adalah kenyataan sebenarnya. Adapun alam nyata yang menempati ruang ini
hanyalah berupa bayangan saja dari alam ide. Aristoteles memberikan sifat
kerohanian dengan ajarannya yang menggambarkan alam ide sebagai suatu tenaga
yang berada dalam benda-benda dan menjalankann pengaruhnya dari benda itu.
Sebenarnya, dapat dikatakan sepanjang masa tidak pernah paham idealism hilang
sama sekali. Pada abad pertenagahn, satu-satunya pendapat yang disepakati oleh
semua ahli pikir adalah idealisme ini. Pada zaman Aufklarung, ulama-ulama
filsafat yang mengakui aliran serba dua, seperti Descartes dan Spinoza yang mengenal
dua pokok yang bersifat kerohanian dan kebendaan ataupun dua-duanya mengakui
bahwa unsur kerohanian lebih penting dari
pada kebendaan. Selain itu, segenap kaum agama sekaligus dapat digolongkan
kepada penganut Idealisme yang paling setia sepanjan masa, walaupun mereka
tidak memiliki dalil-dalil fisafat yang mendalam. Puncak zaman Idealisme pada
masa abad ke 18 dan ke 19 adalah periode idealiisme. Pada saat itu, Jerman
besar sekali pengaruhnya di Eropa.[8]
Tokoh
utama aliran ini adalah
Immanuel Kant. Pokok-pokok pandangan etika idealisme dapat disimpulkan sebagai
berikut:
1. Wujud yang paling dalam dari
kenyataan(hakikat) ialah kerohanian.
Sesorang berbuat baik pada prinsipnya bukan
karena dianjurkan orang lain melainkan atas dasar”kemauan sendiri” atau “rasa
kewajiban”. Sekalipun dincam dan dicela orang lain perbuatan baik itu dilakukan
juga, karena adanya rasa kewajiban yang bersemi dalam rohani manusia.
2. Faktor
yang paling penting mempengaruhi manusia adalah “kemauan” yang melahirkan
tindakan yang konkrit. Dan menjadi pokok disinin adalah “kemauan baik”.
3. Dari kemauan yang baik itulah
dihubungkan dengan suatu hal yang menyempurnakannya yaitu ”rasa kewajiban”.
Dengan
demikian, maka menurut aliran ini “kemauan” adalah merupakan faktor terpenting dari
wujudnya tindakan-tindakan yang nyata. Oleh karena itu “kemauan yang baik”
adalah menjadi dasar pokok dalam etika idealism. Menurut Kant untuk dapat
terealisasinya tindakan dari kemauan yang baik, maka kemauan yang perlu
dihubungkan engan suatu hal yang akan menyempurnakannya, yaitu “perasaan
kewajiban”. Jadi, ada kemauan yang baik kemudian disertai engan perasaan
kewajiban menjalakna sesuatu perbuatan/tindakan, maka terwujudlah
perbuatan/tindakan yang baik.
Perlu dijelaskan disini, bahwa rasa
kewajiban itu terlepas dari kemanfaatan, dalam arti kalau kita mengerjakan
sesuatu karena perasaan kewajiban, maka kita tidak boleh/perlu memikirkan apa
untung dan ruginya dari pekerjaan/perbuatan itu. Jadi, rasa kewajiban itu tidak
dapat direalisasi lagi kepada elemen-elemen yang lebih kecil, dalam arti
kewajiban itu hanya untuk kewajiban semata.[9]
e.
Aliran Utilitarisme
Secara bahasa utilis berarti berguna. Paham ini berpendapat bahwa yang
baik adalah yang berguna. Kalau ukuran ini berlaku bagi perorangan disebut
individual, dan jika berlaku bagi masyarakat dan negara disebut sosial. [10]Tokoh
alliran ini adalah John Stuart Mill(1806-1873). Bertolak dari namanya,
utilitarisme di tuduh menyamakan kebaikan moral dengan manfaat. Aliran ini pun
di anggap sebagai “etika sukses”, yaitu etika yang menilai kebaikan orang dari
apakah perbuatannya menghasilkan sesuatu yang baik atau tidak.
Pokok-pokok pandangannya adalah
sebagai berikut :
a. Baik buruknya suatu perbuatan atas dasar
besar kecilnya manfaat yang ditimbulan bagi manusia
b. Kebaikan yang tertinggi(summunn bonum)
adalah utility(manfaat)
c. Segala tingakah manusi selalu diarahkan
pada pekerjaan yang membuahkan manfaat yang sebesar-besarnya.
d. Tujuannya adalah kebahagiaan(happines)
orang banyak.
Pengorbanan misalnya dipandang baik
jika mendatangkan manfaat. Lain dari pada itu hanyalah sia-sia belaka.
Utilitarisme disebut universal karena yang menjadi norma moral, bukanlah
akibat-akibat baik bagi si pelaku itu sendiri, melainkan akibat-akibat baik
diseluruh dunia. Utilitarisme menuntut perhatian kepada kepentingan dari semua
orang yang terpengaruh oleh tindakan itu, termasuk kepentingan si pelaku itu
sendiri.[11]
Paham ini juga
menjelaskan arti kegunaan tidak hanya yang berhubungan dengan materi, melainkan
melalui sifat rohani yang bisa diterima dengan akal. Dan kegunaan bisa diterima
jika yang digunakan itu hal-hal yang tidak menimbulkan kerugian bagi orang
lain. Disini Nabi juga menilai bahwa orang yang baik adalah orang yang banyak
memberi manfaat kepada orang lain(HR. Bukhari).
Kebahagiaan bersama
bagi semua orang harus menjadi pokok pandangan tiap-tiap orang, bukan
kebahagiaan dia sendiri. Dan kebahagiaan terhitung menjadi keutamaan kerena
membuahkan kelezatan bagi manusia lebih banyak dari buah kepedihan. Dia adalah
utama, meskipun memperpedih sebagian orang-orang dan meskipun memperpedih yang
melakukan perbuatan itu sendiri. Demikian pula kerendahan menjadi kerendahan
karena kepedihannya bagi manusia lebih berat dari kelezatannya.[12]
f.
Aliran Evolusi
Paham ini
mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada dialam ini mengalami evolusi, yaitu
berkembang dari apa adanya sampai pada kesempurnaan. Paham seperti ini tidak
hanya berlaku pada benda-benda yang tampak, seperti binatang, manusia dan
tumbuh-tumbuhan, akan tetapi juga berlaku pada benda yang tidak dapat diihat
dan diraba oleh indera,seperti moral dan akhlak.[13]
Paham evolusi
pertama muncul dibawa oleh seorang ahli pengetahuan bernama “LAMARCK”. Dia
berpendapat bahwa jenis-jenis binatang itu merubah satu sama lainnya. Dan
menolak pendapat yang mengatakn bahwa jneis-jenis itu berbeda-beda dan tidak
dapat berubah-ubah. Alasan lainnya bahwa jenis-jenis itu tidak terjadi pada
satu masa akan tetapi bermula dari binatang rendah, menigkat dan beranak satu
dari lainnya dan berganti dari jenis ke jenis lain.
Ada dua faktor pergantian yaitu :
1.
Lingkungan : mengadakan penyesuaian dirinya menurut keadaan.
2.
Warisan : bahwa sifat-sifat tetap pada pokok, sesuai dengan pertengahan
perpindahan pada
cabang-cabangnya. Paham ini disebut paham pertumbuhan dan kepentingan(evalition).
Herbert Spencer mencocokkan paham ini dengan akhlak
berpendapat bahwa perbuatan-perbuatan akhlak itu tumbuh secara sederhan dan
mulai berangsur meningkat sedikit demi sedikit,dan ia berjalan ke arah
“cita-cita” yang dianggap sebagai tujuan. Maka perbuatan itu baik bia dekat
dari cita-cita itu dan buruk bila jauh dari padanya. Tinjauan manusia di dalam
hidup ini akan mencapai cita-cita itu atau mendekatinya sedapat mungkin.
Bahwa Spencer menjadikan ukuran perbuatan itu adalah
“merubah diri sesuai dengan keadaan-keadaan yang mengelilinginya”. Suatu
perbuatan di katakan baik bila menimbulkan lezat dan bahagia. Dan yang demikian
itu terjadi bila sesuai dengan apa yang melingkunginya atau dengan kata lain
cocok dengan keadaan yang beada di sekelilingnya. Dan yang demikian itu
terjadi, bila tidak susuai dengan keadaan yang berbeda di sekelilingnya. Jadi
tiap-tiap perbuatan itu bila lebih banyak persesuaian adalah lebih lebih dekat pada kesempurnaan.
Pengikut paham ini berpendapat bahwa segal perbuatan
akhlak itu tumbuh dengan sederhana, dan mulai naik dan meningkat sedikit demi
sedikit, lalu berjalan menuju kepada cita-cita, dimana cita-cita ini ialah yang
menjadi tujuan. Maka perbuatan itu baik bila dekat dengan cita-cita itu, dna
buruk bial jauh darinya. Tujuan manusia didalam hidup ini mencapai cita-cita
itu atau mendekatinya sedapat mungkin.[14]
g.
Aliran Religionisme
Paham ini berpendapat bahwa yang dianggap baik adalah
perbuatan yang sesuai denngan kehendak Tuhan, sedangkan perbuatan buruk adalah
perbuatan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Paham ini,terhadap keyakinan
teologis yaitu keimanan kepada Tuahan sangat memegang peran penting. Karena
tidak mungkin orang berbuat sesuai dengan kehendak Tuhan, apabila yang
melakukan tidak beriman kepada-Nya.
Perlu diketahui, bahwa didunia ini ada bermacam-macam
agama yang dianut, dan masing-masing agama menentukan baik buruk menurut
ukuranya agama masing-masing. Agama Hindu, Budha, Yahudi, Kristen dan Islam ,
masing-masing agama tersebut memiliki pandangan dan tolok ukur tentang baik dan
buruk antra yang satu dengan lainya berbeda-beda dan juga ada persamaanya.
BAB III
KESIMPULAN
Baik adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan yang
luhur, bermartabat, menyenangkan dan disukai manusia. Dengan demikian yang dikatakan
buruk itu adalah sesuatu yang dinilai sebaliknya dari yang baik. Aliran-aliran
filsafat ayng mempengaruhi dalam penentuan baik dan buruk ini adalah aliran
sosialisme, idealisme, intuisisme, utilitarianisme, hedonisme, evolusi dan
religionisme.
Baik atau buruk itu relatif sekali, karena tergantung
pada pandangan dan penilaian masing-masing yang merumuskan. Dengan demikian
nilai bai atau buruk menurut pengertian tersebut bersifat relatif dan
subyektif, karena berganrung kepada individu yang menilainya.
Ajaran islam bersumber dari wahyu Allah SWT berupa Al-Qur’an yang dalam
penjabarannya di contohkan oleh sunah Nabi Muhammad saw. Masalah akhlak dalam ajaran islam
mendapatkan perhatian besar. Istialh baik dna buruk menurut islam harus
didasarkan pada petunjuk Al-Qur’an dan Al-Hadis. Kalau kita perhatikan, istilah
baik buruk dapat kita jumpai dalam Qur’an maupun Hadis, seperti Al Hasanah,
thayyibah, khairah, karimah, mahmudah, al-birr, dan azizah.
[1] Louis Ma’luf,Munjid,(Beirut,Daarul Masyrik.Mansoor,Sofia,Pengantar.Penerbitan.Bandung
ITB)1996 hlm 104
DAFTAR PUSTAKA
A.Mustofa. 2010. Akhlak Tasawuf,Bandung:
Pustaka Setia.
Amin, Ahmad. 1983. Etika Ilmu Akhlak, Jakarta : Bulan Bintang.
Anwar, Rosihon. 2010. Akhlak Tasawuf, Bandung:Pustaka Setia.
Ma’luf
,Louis,Munjid,(Beirut,Daarul
Masyrik.Mansoor,Sofia,Pengantar.Penerbitan.Bandung ITB)
Nata, Abuddin. 1996. Akhlak Tasawuf, Jakarta:PT.Rajagrafindo
Persada.
Poedjawijatna. 1982. Etika Filsafat Tingkah
Laku, Jakarta : Bina Aksara.