HAKEKAT ASAL USUL 1
(Thales, Heraditor, dan
Paramanides)
Makalah
Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Filsafat Umum
![]() |
Deby
Septiyas Jazuli (210214231)
Dian
Mayastikasari (210214222)
Halimatus
Sa’diyah (210214222)
Dosen
pengampu :
Agus Setyawan ,M.SI
PROGRAM STUDI MUAMALAH
JURUSAN SYARI’AH
SEKOLAH TINGGI ISLAM NEGERI
(STAIN) PONOROGO
2014
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Menurut Juhaya S. Pradja (2003 : 50 – 58), para filosof Yunani yang
pertama tidak lahir di tanah airnya sendiri, melainkan di tanah perantauan di
asia Monitor. Dahulu, bangsa Yunani di Semenanjung Balkan banyak yang menjadi
perantau, karena tanahnya tidak subur, dan sepanjang daratan dilalui oleh bukit
barisan, serta banyak teluk yang menjorok ke daratan,. Sehingga tidak banyak
tanah yang baik untuk tempat tinggal. Mereka yang merantau itu hidup makmur,
dari perniagaan dan pelayaran. Kemakmuran itu memberikan kelonggaran bagi
mereka untuk mengerjakan hal-hal selain mencari penghidupan. Waktu yang
terluang dipergunakanya untuk memperkuat kemuliaan hidup dengan seni dan
mengembangkan buah pikiran. Itulah sebabnya, Miletos di Asia Minor, kota tempat
mereka merantau, menjadi tempat lahirnya filosof-filosof Yunani yang pertama,
seperti Thales, Herakletos, dan Perminides. Mereka disebut Filosof Alam, sebab
tujuan filsafat mereka ialah memikirkan masalah alam besar, dari mana
terjadinya alam.
B.
RumusanMasalah
1.
Bagaiman
hakikat asal-usul filsafat menurut Thales ?
2.
Bagaiman
hakikat asal-usul filsafat menurut Herakletos ?
3.
Bagaiman
hakikat asal-usul filsafat menurut Perminides ?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Hakekat
Asal-Usul 1(Thales)
Filosof alam pertama adalah Thales, yang hidup pada abad ke-6
sebelum Masehi. Di kalangan oreng-orang Yunani pada waktu itu, ia dikenal
sebagai salah seorang hoi liepta siplioi, yaitu tujuh orang bijaksana,
atau The Seve Wise Men atau al-Hukania’ as-Sab’ah. Aristoteles
memberikan gelar kepada Thales sebagai filosof yang pertama. [1]
Thales adalah seorang pedagang, ahli pemerintah, ahli astronomi,
yang bisa meramalkan gerhana matahari pada tanggal 28 Mei 585 SM. Dia juga
mempunyai ilmu tentang magnit, mengukur tinggi piramida-piramida Mesir dan
menemukan dalil-dalil ilmu ukur. Tentang filsafatnya hanya sedikit yang dapat
diketahui karena ia tidak meninggalkan tulisan-tulisan. Yang menjadi sumber
berita ialah Aristoteles(abad 4SM) yang mendapat bahan-bahan secara lisan.[2]
Thales berpendapat bahwa dunia dikelilingi oleh air pada akhirnya,
berasal dari air. Ide yang sangat mungkin berasal dari Kosmogoni purba Yunani
dan kebudayaan-kebudayaan lainnya. Tetapi tidak beranggapan bahwa segala
sesuatu terbuat dari air.[3]
Pandangan Thales merupakan cara berpikir yang sangat tinggi, karena
sebelumnya, orang-orang Yunani lebih banyak mengambil jawaban-jawaban tentang
alam dengan kepercayaan dan mitos-mitos yang tentu di penuhi ketahayulan.
Thales telah membuka alam pikiran dan keyakinan tentang alam serta asal
muasalnya,tanpa menunggu hadirnya penemuan ilmiah atau dalil-dalil agama. Bagi
Thales semua kehidupan berasal dari air,bahkan air berasal dari air. Air adalah
causa prima dari segala yang ada yang jadi,tetapi juga akhir dari segala yang
ada dan yang jadi. Di awal air dan di ujung air, atau dengan perkataan
filosofis, air adalah subtract atau bingkai dan substansi atau isi. Bertitik
tolak dari pemikiran tersebut ,tak ada jurang pemiasah antara hidup dengan
mati.Semuanya satu.
Naluriah imanen Thales adalah animise, yang mempercayai bahwa bukan
hanya yang hidup saja yang mempunyai jiwa, tetapi juga benda mati mempunyai
jiwa. Aristoteles menamakan pendapat Thales yang menyatakan bahwa jagat raya
ini memiliki jiwa, dengan nama hylezoime . (Juhaiya S.Pradja,2000:51).
Thales di sebut-sebut sebagai Bapak Filsafat Yunani, sebab dialah
filosof yang pertama. Namun, ajaran filsafatnya tidak perbah di tulisnya,
sehingga Aristoteles melukiskannya secara gambling tentang perjalanan pemikiran
Thales.[4]
B.
Hakekat
Asal-Usul 1(Herakletos)
Herakletos (540-480 SM) dilahirkan di Ephesos dari suatu keluarga
yang tergolong aristocrat. Ia mempunyai watak tidak mengenal kompromi, dan
sangat eksterm dalam menentang dalam demokrasi. Dia sangat bebas mengemukakan
pendapat filosof-filosof sebelumnya, dan mempunyai pandangan sendiri dalam
filsafat. Kalau folosof-filosof Lonia tertarik pada masalah substansi yang
menjadi asal atau sebab dari alam dan filosof Phytagoras tertarik pada masalah
bentuk dan hubungan-hubungannya dalam alam yang bersifat kuantitatif, maka
Herakletos tertarik pada masalah perubahan-perubahan yang terjadi dalam alam
(Problem of Changing or becoming). Herakletos sangat terpengaruh oleh kenyataan
bahwa alam ini mengalami perubahan terus-menerus sehingga terjadilah pluralitas
dalam alam ini.[5]
Herakletos terkenal karena pengamatannya yang jelas pada pemikiran
kedua menjadi teka-teki mendalam dan dapat jadi kabur yang menyatakan”alam
mencintai ketersembunyiannya(concealment)”. Ia sendiri mencintai teka-teki,
paradoks-paradoks dan permainan kata yang dapat mengundang pemikiran yang
mendalam untuk mengungkapkan maknanya. Pada pemikiran kedua menjadi teka-teki
yang mendalam dan kabur semisal, “jalan naik dan jalan belakang adalah sama”.
Untuk kehidupan sesudah mati, “segala yang kita lihat di saat bangun adalah
kematian”, dan “orang jangan berharap atau membayangkan apa yang menantikan
mereka dalam kematian”. Untuk sebuah peradaban yang putus asa dan mendambakan
perdamaian karena perang yang berkepanjangan, ia menegaskan “kerang adalah bapa
dan raja dari segalanya”.[6]
Herakletos berpendapat bahwa asas itu adalah api. Menurut
pendapatnya, api adalah lambang perubahan. Ia berpendapat bahwa di dunia ini
tidak ada suatu apapun yang tetap, definitive, dan sempurna tetapi berubah
seperti kayu karena api dapat menjadi abu. Segala sesuatu berada dalam
status”menjadi”, mengalir, panta rhei.[7]
Herakletos berkeyakinan bahwa api adalah elemen utama dari segala
sesuatu yang timbul. Api merupakan lambang dari perubahan-perubahan dalam alam
ini. Menurut Herakletos, dunia ini tidak dijadikan oleh siapa pun juga. Ia ada
selama-lamanya. Ia sebagai api yang hidup selalu, yang menyala dan padam secara
berganti-ganti. Perjalanan dunia ini senantiasa beredar, tidak bermula dan
berkesudahan. Dunia selalu dalam kejadian, sebab tidak ada sesuatu yang kuasa
menahannya. Dunia senantiasa bergerak, sebab ia mengandung hukumnya, logosnya
dalam dirinya sendiri, sebab itu kemajuan berlaku menurut irama yang tetap.
(Juhaya S. Pradja 2000:56)
Herakletos memandang api sebagai anasir yang asal. Pandangannya itu
semata-mata tidak terikat pada alam eksternal, alam besar, seperti
pandangan-pandangan filosof Miletos. Anasir yang asal itu dipandangnya pula
sebagai kiasan dari segala kejadian. Api yang selalu bergerak dan berubah rupa
itu menyatakan, bahwa tak ada yang tenang dan tetap. Yang ada hanya pergerakan
senantiasa. Tidak ada yang boleh disebut ada, melainkan manjadi. Semuanya itu
dalam kejadian. Segala kejadian di dunia ini serupa dengan api yang tidak
putusnya dengan berganti-ganti memakan dan menghidupi dirinya sendiri. Segala
permulaan adalah mula dari akhirnya.
Dunia adalah tempat yang senantiasa bergerak, tempat kemajuan yang
tidfak berkeputusan. Yang baru itu mendapat tempatnya dengan menghancurkan dan
menewaskan yang lama. Dunia ini medan perjuangan yang tidak berkeputusan antara
dua aliran yang bertentangan. Semua benda yang nisbi, segala keadaan yang
sementara adalah akibat berturut-turut dari suatu gerakan yang Maha Besar. “Perjuangan
itu adalah bapak dari segalanya,raja dari segalanya.” Akan tetapi, segala
perubahan di kuasai oleh hukum dunia yang satu:Logos.Logos artinya
pikiran yang benar. Dari situ, timbul perkataan”Logika”. [8]
C.
Hakekat
Asal-Usul 1(Perminides)
Perminides adalah seorang
filosof Elea yang di lahirkan pada tahun 540 SM. Ia terkenal sebagai orang yang
besar. Ia ahli politik dan pernah memangku jabatan pemerintah. Akan tetapi
,bukan karena itu ia terkenal, melainkan karena ia terkenal sebagai ahli pikir
yang melebihi siapa saja pada masanya.
Perminides menyatakan tak ada hal-hal yang berubah. Jika indera
dapat membuktikan keberubahan, berarti indera menipu. Perubahan hanyalah ilusi.
Karena seluruh perubahan, berada dalam kepastian yang ketat. Seperti matahari yang
bergerak dari timur ke barat, tetap demikian sampai kapanpun tak pernah
berubah(melenceng ke utara atau ke selatan) atau contoh lain, air yang menjelma
menjadi uap bukalah perubahan karena dari dulu memang telah demikian adanya. Bagi
Perminides, perubahan pasti merupakan penampakan dari segala sesuatu yang baru,
sesuatu yang tidak ada sebelumnya ; hal yang tidak ada sebelumnya tentulah tak
bias dipikirkan, karena itu perubahan tak pernah ada, tak pernah bias
dipikirkan.[9]
Sebagai ahli pikir yang brilian dan tidak tertandingi pada
zamannya, Perminides mengatakan bahwa kebenaran adalah satu, namun
berbeda-beda, tergantung pada subjek yang mengatakannya. Ada kebenaran yang di
katakan dengan rendah hati dan ada kenenaran yang di sampaikan dengan cara terror
dan paksa. Dan cara kedua berlaku dari zaman dahulu hingga zaman modern. Orang
banyak tidak di ajak berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dalam menghadapi
masalah-masalah yang serba tidak ada kepastian. Mereka lebih suka di manja
dengan cerita khayal yang menyenagkan daripada dihadapkann pada kenyataan yang
pahit. (Moh.Hatta 1986:15-17)
Dalam The Way of Truth, Perminides bertanaya, “Apa standar
kebenaran dan apa ukuran realitas ?Bagaimana hal itu dapat di pahami ?” Ia
menjawab,”Ukurannya ialah logika yang konsisten”. [10]
Pengetahuan yang benar bagi
Permenides adalah pengetahuan dari akal bukan dari indera. Kebenaran yang
mutlak ialah kebenaran yang berdasar pada keyakinan bahwa yang ada itu ada. Sebab
tidak mungkin yang ada itu tidak ada dan yang tidak ada itu
ada. Jadi yang ada tentu ada, yang tidak ada itu tentu tidak ada. Karena
itu hanya yang ada saja yang dapat dipikirkan dan yang tidak ada tidak dapat
dipikirkan. Jadi dapat dikatakan bahwa berfikir itu sama dengan berada, yang
ada itu satu dan tak terbagi-bagi, tidak berawal dan tidak berakhir dan tidak
berasal dari yang tidak ada dan tidak dapat menjadi tidak ada. Pemikiran
Permenides ini dapat dikatakan penemuan dalam cabang filsafat tentang ada yang
disebut metafisika.
Standar kebenaran dan
ukuran realitas bagi Permenides adalah logika. Dari standar kebenaran ini menunjukan
bahwa akal manusia merupakan ukuran kebenaran. Manusialah penentu kebenaran.
Akal menjadi sangat mendominasi, sehingga pada masa berikutnya hal ini mendapat
reaksi keras dari Socrat.[11]
DAFTAR PUSTAKA
Adib,
Mohammad, 2011,filsafat ilmu, ,Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Bambang
Q-Annes&Rasea Juli A.Hambali,2003,Filsafat Untuk Umum,Prenada Media,Jakarta.
Hakim,
Atang A & Beni A. Soebeni,2008, Filsafat Umum, Pustaka Setia,Bandung.
Waris,
2009,filsafat umum, STAIN Po PRESS, Ponorogo.
Wiramihardja,SutardjoA,2006,PengantarFilsafat,Bandung,Ravika
Aditama,Bandung.
[1] Atang
A.Hakim & Beni A. Soebeni, Filsafat Umum (Bandung, Pustaka Setia,
2008)hal 147
[2] Waris,filsafat
umum(Ponorogo, STAIN Po PRESS, 2009)hal 20
[3] Mohammad
Adib,filsafat ilmu(Yogyakarta,Pustaka Pelajar,2011)hal 27-28
[4] Ibid,(Atang
A.Hakim & Beni A. Soebeni, Filsafat Umum (Bandung, Pustaka Setia,
2008)hal148
[5] Atang
A.Hakim & Beni A. Soebeni, Filsafat Umum (Bandung, Pustaka Setia,
2008)hal 162-163
[6] Mohammad
Adib,filsafat ilmu(Yogyakarta,Pustaka Pelajar,2011)hal 28
[7] Sutardjo
A.Wiramihardja,Pengantar Filsafat(Bandung,Ravika Aditama,2006)hal46
[8] Atang
A.Hakim & Beni A. Soebeni, Filsafat Umum (Bandung, Pustaka Setia,
2008)hal 162-165
[9]
Bambang Q-Annes&Rasea Juli A.Hambali,Filsafat Untuk Umum(Jakarta:Prenada
Media,2003)hal.108-109
[10] Atang
A.Hakim & Beni A. Soebeni, Filsafat Umum (Bandung, Pustaka Setia,
2008)hal 165-167
[11] Waris,filsafat
umum(Ponorogo, STAIN Po PRESS, 2009)hal 22-23

Tidak ada komentar:
Posting Komentar