Assalamu'alaikum

Minggu, 11 Januari 2015

makalah HAKEKAT ASAL USUL 1 (Thales, Heraditor, dan Paramanides) Filsafat Umum



HAKEKAT ASAL USUL 1
(Thales, Heraditor, dan Paramanides)
Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Filsafat Umum


 






Deby Septiyas Jazuli           (210214231)
Dian Mayastikasari             (210214222)
Halimatus Sa’diyah            (210214222)

Dosen pengampu :
Agus Setyawan ,M.SI

PROGRAM STUDI MUAMALAH
JURUSAN SYARI’AH
SEKOLAH TINGGI ISLAM NEGERI
(STAIN) PONOROGO
2014
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Menurut Juhaya S. Pradja (2003 : 50 – 58), para filosof Yunani yang pertama tidak lahir di tanah airnya sendiri, melainkan di tanah perantauan di asia Monitor. Dahulu, bangsa Yunani di Semenanjung Balkan banyak yang menjadi perantau, karena tanahnya tidak subur, dan sepanjang daratan dilalui oleh bukit barisan, serta banyak teluk yang menjorok ke daratan,. Sehingga tidak banyak tanah yang baik untuk tempat tinggal. Mereka yang merantau itu hidup makmur, dari perniagaan dan pelayaran. Kemakmuran itu memberikan kelonggaran bagi mereka untuk mengerjakan hal-hal selain mencari penghidupan. Waktu yang terluang dipergunakanya untuk memperkuat kemuliaan hidup dengan seni dan mengembangkan buah pikiran. Itulah sebabnya, Miletos di Asia Minor, kota tempat mereka merantau, menjadi tempat lahirnya filosof-filosof Yunani yang pertama, seperti Thales, Herakletos, dan Perminides. Mereka disebut Filosof Alam, sebab tujuan filsafat mereka ialah memikirkan masalah alam besar, dari mana terjadinya alam.

B.     RumusanMasalah
1.      Bagaiman hakikat asal-usul filsafat menurut Thales ?
2.      Bagaiman hakikat asal-usul filsafat menurut Herakletos ?
3.      Bagaiman hakikat asal-usul filsafat menurut Perminides ?





BAB II
PEMBAHASAN

A.    Hakekat Asal-Usul 1(Thales)
Filosof alam pertama adalah Thales, yang hidup pada abad ke-6 sebelum Masehi. Di kalangan oreng-orang Yunani pada waktu itu, ia dikenal sebagai salah seorang hoi liepta siplioi, yaitu tujuh orang bijaksana, atau The Seve Wise Men atau al-Hukania’ as-Sab’ah. Aristoteles memberikan gelar kepada Thales sebagai filosof yang pertama. [1]
Thales adalah seorang pedagang, ahli pemerintah, ahli astronomi, yang bisa meramalkan gerhana matahari pada tanggal 28 Mei 585 SM. Dia juga mempunyai ilmu tentang magnit, mengukur tinggi piramida-piramida Mesir dan menemukan dalil-dalil ilmu ukur. Tentang filsafatnya hanya sedikit yang dapat diketahui karena ia tidak meninggalkan tulisan-tulisan. Yang menjadi sumber berita ialah Aristoteles(abad 4SM) yang mendapat bahan-bahan secara lisan.[2]
Thales berpendapat bahwa dunia dikelilingi oleh air pada akhirnya, berasal dari air. Ide yang sangat mungkin berasal dari Kosmogoni purba Yunani dan kebudayaan-kebudayaan lainnya. Tetapi tidak beranggapan bahwa segala sesuatu terbuat dari air.[3]

Pandangan Thales merupakan cara berpikir yang sangat tinggi, karena sebelumnya, orang-orang Yunani lebih banyak mengambil jawaban-jawaban tentang alam dengan kepercayaan dan mitos-mitos yang tentu di penuhi ketahayulan. Thales telah membuka alam pikiran dan keyakinan tentang alam serta asal muasalnya,tanpa menunggu hadirnya penemuan ilmiah atau dalil-dalil agama. Bagi Thales semua kehidupan berasal dari air,bahkan air berasal dari air. Air adalah causa prima dari segala yang ada yang jadi,tetapi juga akhir dari segala yang ada dan yang jadi. Di awal air dan di ujung air, atau dengan perkataan filosofis, air adalah subtract atau bingkai dan substansi atau isi. Bertitik tolak dari pemikiran tersebut ,tak ada jurang pemiasah antara hidup dengan mati.Semuanya satu.
Naluriah imanen Thales adalah animise, yang mempercayai bahwa bukan hanya yang hidup saja yang mempunyai jiwa, tetapi juga benda mati mempunyai jiwa. Aristoteles menamakan pendapat Thales yang menyatakan bahwa jagat raya ini memiliki jiwa, dengan nama hylezoime . (Juhaiya S.Pradja,2000:51).
Thales di sebut-sebut sebagai Bapak Filsafat Yunani, sebab dialah filosof yang pertama. Namun, ajaran filsafatnya tidak perbah di tulisnya, sehingga Aristoteles melukiskannya secara gambling tentang perjalanan pemikiran Thales.[4]

B.     Hakekat Asal-Usul 1(Herakletos)
Herakletos (540-480 SM) dilahirkan di Ephesos dari suatu keluarga yang tergolong aristocrat. Ia mempunyai watak tidak mengenal kompromi, dan sangat eksterm dalam menentang dalam demokrasi. Dia sangat bebas mengemukakan pendapat filosof-filosof sebelumnya, dan mempunyai pandangan sendiri dalam filsafat. Kalau folosof-filosof Lonia tertarik pada masalah substansi yang menjadi asal atau sebab dari alam dan filosof Phytagoras tertarik pada masalah bentuk dan hubungan-hubungannya dalam alam yang bersifat kuantitatif, maka Herakletos tertarik pada masalah perubahan-perubahan yang terjadi dalam alam (Problem of Changing or becoming). Herakletos sangat terpengaruh oleh kenyataan bahwa alam ini mengalami perubahan terus-menerus sehingga terjadilah pluralitas dalam alam ini.[5]
Herakletos terkenal karena pengamatannya yang jelas pada pemikiran kedua menjadi teka-teki mendalam dan dapat jadi kabur yang menyatakan”alam mencintai ketersembunyiannya(concealment)”. Ia sendiri mencintai teka-teki, paradoks-paradoks dan permainan kata yang dapat mengundang pemikiran yang mendalam untuk mengungkapkan maknanya. Pada pemikiran kedua menjadi teka-teki yang mendalam dan kabur semisal, “jalan naik dan jalan belakang adalah sama”. Untuk kehidupan sesudah mati, “segala yang kita lihat di saat bangun adalah kematian”, dan “orang jangan berharap atau membayangkan apa yang menantikan mereka dalam kematian”. Untuk sebuah peradaban yang putus asa dan mendambakan perdamaian karena perang yang berkepanjangan, ia menegaskan “kerang adalah bapa dan raja dari segalanya”.[6]
Herakletos berpendapat bahwa asas itu adalah api. Menurut pendapatnya, api adalah lambang perubahan. Ia berpendapat bahwa di dunia ini tidak ada suatu apapun yang tetap, definitive, dan sempurna tetapi berubah seperti kayu karena api dapat menjadi abu. Segala sesuatu berada dalam status”menjadi”, mengalir, panta rhei.[7]
Herakletos berkeyakinan bahwa api adalah elemen utama dari segala sesuatu yang timbul. Api merupakan lambang dari perubahan-perubahan dalam alam ini. Menurut Herakletos, dunia ini tidak dijadikan oleh siapa pun juga. Ia ada selama-lamanya. Ia sebagai api yang hidup selalu, yang menyala dan padam secara berganti-ganti. Perjalanan dunia ini senantiasa beredar, tidak bermula dan berkesudahan. Dunia selalu dalam kejadian, sebab tidak ada sesuatu yang kuasa menahannya. Dunia senantiasa bergerak, sebab ia mengandung hukumnya, logosnya dalam dirinya sendiri, sebab itu kemajuan berlaku menurut irama yang tetap. (Juhaya S. Pradja 2000:56)
Herakletos memandang api sebagai anasir yang asal. Pandangannya itu semata-mata tidak terikat pada alam eksternal, alam besar, seperti pandangan-pandangan filosof Miletos. Anasir yang asal itu dipandangnya pula sebagai kiasan dari segala kejadian. Api yang selalu bergerak dan berubah rupa itu menyatakan, bahwa tak ada yang tenang dan tetap. Yang ada hanya pergerakan senantiasa. Tidak ada yang boleh disebut ada, melainkan manjadi. Semuanya itu dalam kejadian. Segala kejadian di dunia ini serupa dengan api yang tidak putusnya dengan berganti-ganti memakan dan menghidupi dirinya sendiri. Segala permulaan adalah mula dari akhirnya.
Dunia adalah tempat yang senantiasa bergerak, tempat kemajuan yang tidfak berkeputusan. Yang baru itu mendapat tempatnya dengan menghancurkan dan menewaskan yang lama. Dunia ini medan perjuangan yang tidak berkeputusan antara dua aliran yang bertentangan. Semua benda yang nisbi, segala keadaan yang sementara adalah akibat berturut-turut dari suatu gerakan yang Maha Besar. “Perjuangan itu adalah bapak dari segalanya,raja dari segalanya.” Akan tetapi, segala perubahan di kuasai oleh hukum dunia yang satu:Logos.Logos artinya pikiran yang benar. Dari situ, timbul perkataan”Logika”. [8]

C.    Hakekat Asal-Usul 1(Perminides)

   Perminides adalah seorang filosof Elea yang di lahirkan pada tahun 540 SM. Ia terkenal sebagai orang yang besar. Ia ahli politik dan pernah memangku jabatan pemerintah. Akan tetapi ,bukan karena itu ia terkenal, melainkan karena ia terkenal sebagai ahli pikir yang melebihi siapa saja pada masanya.
Perminides menyatakan tak ada hal-hal yang berubah. Jika indera dapat membuktikan keberubahan, berarti indera menipu. Perubahan hanyalah ilusi. Karena seluruh perubahan, berada dalam kepastian yang ketat. Seperti matahari yang bergerak dari timur ke barat, tetap demikian sampai kapanpun tak pernah berubah(melenceng ke utara atau ke selatan) atau contoh lain, air yang menjelma menjadi uap bukalah perubahan karena dari dulu memang telah demikian adanya. Bagi Perminides, perubahan pasti merupakan penampakan dari segala sesuatu yang baru, sesuatu yang tidak ada sebelumnya ; hal yang tidak ada sebelumnya tentulah tak bias dipikirkan, karena itu perubahan tak pernah ada, tak pernah bias dipikirkan.[9]
Sebagai ahli pikir yang brilian dan tidak tertandingi pada zamannya, Perminides mengatakan bahwa kebenaran adalah satu, namun berbeda-beda, tergantung pada subjek yang mengatakannya. Ada kebenaran yang di katakan dengan rendah hati dan ada kenenaran yang di sampaikan dengan cara terror dan paksa. Dan cara kedua berlaku dari zaman dahulu hingga zaman modern. Orang banyak tidak di ajak berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dalam menghadapi masalah-masalah yang serba tidak ada kepastian. Mereka lebih suka di manja dengan cerita khayal yang menyenagkan daripada dihadapkann pada kenyataan yang pahit. (Moh.Hatta 1986:15-17)
Dalam The Way of Truth, Perminides bertanaya, “Apa standar kebenaran dan apa ukuran realitas ?Bagaimana hal itu dapat di pahami ?” Ia menjawab,”Ukurannya ialah logika yang konsisten”. [10]
   Pengetahuan yang benar bagi Permenides adalah pengetahuan dari akal bukan dari indera. Kebenaran yang mutlak ialah kebenaran yang berdasar pada keyakinan bahwa yang ada itu ada. Sebab tidak mungkin yang ada itu tidak ada dan yang tidak ada itu ada. Jadi yang ada tentu ada, yang tidak ada itu tentu tidak ada. Karena itu hanya yang ada saja yang dapat dipikirkan dan yang tidak ada tidak dapat dipikirkan. Jadi dapat dikatakan bahwa berfikir itu sama dengan berada, yang ada itu satu dan tak terbagi-bagi, tidak berawal dan tidak berakhir dan tidak berasal dari yang tidak ada dan tidak dapat menjadi tidak ada. Pemikiran Permenides ini dapat dikatakan penemuan dalam cabang filsafat tentang ada yang disebut metafisika.
   Standar kebenaran dan ukuran realitas bagi Permenides adalah logika. Dari standar kebenaran ini menunjukan bahwa akal manusia merupakan ukuran kebenaran. Manusialah penentu kebenaran. Akal menjadi sangat mendominasi, sehingga pada masa berikutnya hal ini mendapat reaksi keras dari Socrat.[11]



















DAFTAR PUSTAKA
Adib, Mohammad, 2011,filsafat ilmu, ,Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Bambang Q-Annes&Rasea Juli A.Hambali,2003,Filsafat Untuk Umum,Prenada Media,Jakarta.
Hakim, Atang A & Beni A. Soebeni,2008, Filsafat Umum, Pustaka Setia,Bandung.
Waris, 2009,filsafat umum, STAIN Po PRESS, Ponorogo.
Wiramihardja,SutardjoA,2006,PengantarFilsafat,Bandung,Ravika Aditama,Bandung.






[1] Atang A.Hakim & Beni A. Soebeni, Filsafat Umum (Bandung, Pustaka Setia, 2008)hal 147
[2] Waris,filsafat umum(Ponorogo, STAIN Po PRESS, 2009)hal 20
[3] Mohammad Adib,filsafat ilmu(Yogyakarta,Pustaka Pelajar,2011)hal 27-28
[4] Ibid,(Atang A.Hakim & Beni A. Soebeni, Filsafat Umum (Bandung, Pustaka Setia, 2008)hal148
[5] Atang A.Hakim & Beni A. Soebeni, Filsafat Umum (Bandung, Pustaka Setia, 2008)hal 162-163
[6] Mohammad Adib,filsafat ilmu(Yogyakarta,Pustaka Pelajar,2011)hal 28
[7] Sutardjo A.Wiramihardja,Pengantar Filsafat(Bandung,Ravika Aditama,2006)hal46
[8] Atang A.Hakim & Beni A. Soebeni, Filsafat Umum (Bandung, Pustaka Setia, 2008)hal 162-165
[9] Bambang Q-Annes&Rasea Juli A.Hambali,Filsafat Untuk Umum(Jakarta:Prenada Media,2003)hal.108-109
[10] Atang A.Hakim & Beni A. Soebeni, Filsafat Umum (Bandung, Pustaka Setia, 2008)hal 165-167
[11] Waris,filsafat umum(Ponorogo, STAIN Po PRESS, 2009)hal 22-23

Tidak ada komentar:

Posting Komentar